Tampilkan postingan dengan label hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hewan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

OSMOREGULASI HEWAN

Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
Ada tiga pola regulasi:
1. Regulasi hipertonik atau hiperosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media, misal: pada potadrom (ikan air tawar) Potadrom mempertahankan konsentrasi cairan tubuhnya dengan mengurangi minum danmemperbanyak urineOsmoregulasi beberapa golongan ikan(Telesostei).
2. Regulasi hipotonik atau hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi media, misal: pada oseandrom (ikan air laut), Oseanodrom memperbanyak minum dan mengurangi volume urine. Diadrom, melakukan aktivitas osmoregulasi seperti petadrom bila berada di air tawar dan seperti oseanodrom bila berada di air laut.
3. Regulasi isotonik atau isoosmotik, yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media, misalnya ikan-ikan pada daerah estuarine (ikan eurihaline) contohnya:
• ikan eurihalin, konsentrasi cairan tubuhnya hampir sama dengan lingkungannya,sehingga hanya sedikit melakukanosmoregulasi Osmoregulasi beberapa golongan ikan
• Ikan Elasmobransi, melakukan osmoregulasi dengan cara menahan urea sampai konsentrasi dalam darah meningkat kira-kira 5 % untuk meningkatkan total tekanan osmose darah ke tingkat yang lebih tinggi dibanding air laut
Osmoregulasi pada hewan
1. Osmoregulasi pada hewan invertebrata laut
Kebanyakan invertebrata yang berhabitat di laut tidak secara aktif mengatur sistem osmosis mereka, dan dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki osmolaritas internal yang sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada tendensi untuk memperoleh atau kehilangan air. Karena kebanyakan osmoconformer hidup di lingkungan yang memiliki komposisi kimia yang sangat stabil (i.e. di laut) maka osmoconformer memiliki osmolaritas yang cendrung konstan.
Sedangkan osmoregulator adalah organisme yang menjaga osmolaritasnya tanpa tergantung lingkungan sekitar. Oleh karena kemampuan meregulasi ini maka osmoregulator dapat hidup di lingkungan air tawar, daratan, serta lautan. Di lingkungan dengan konsentrasi cairan yang rendah, osmoregulator akan melepaskan cairan berlebihan dan sebaliknya
2. Osmoregulasi pada hewan vertebrata laut
Osmoregulasi pada hewan vertebrata laut dibagi kedalam dua kelompok yaitu:
a. Konformer Osmotik dan Ionik : Siklostomata (hagfish) danVertebrata primitif osmoregulasinya sama seperti invertebrata laut.
b. Regulator Osmotik dan Ionik : Regulasi osmotik dan ionik tidak sama dan memperlihatkan tingkatan dan Konsentrasi osmotik plasma mendekati sepertiga konsentrasi osmotik air laut.
Mekanisme Osmoregulasi Vertebrata Laut misalnya teleostai laut diperlukan mekanisme adaptasi untuk menghindari kehilangan air dari tubuhnya. Pada Elasmobrankhii menggunakan kelenjar rektal yaiut untuk mengeluarkan kelebihan Na+ secara aktif ,dan menghasilkan sedikit urin untuk Urin dimanfaatkan untuk mengeluarkan kelebihan NaCl.
Pada Mamalia Laut yaitu lumba-lumba dan ikan paus Masalah pemasukan garam yang terlalu banyak yang masuk bersama makanan,bisa Diatasi dengan organ ginjal yang sangat efisien yang dapat menghasilkan urin yang kepekatannya 3 – 4 kali dari cairan plasmanya.
3. Osmoregulai pada hewan di lingkungan air tawar .
Masalah yang dihadapi hewan air tawar adalah Tekanan Osmotik cairan tubuh hewan air tawar lebih tinggi dari lingkungannya (hiperosmotik/hipertoniskarena terancam oleh Kehilangan garam dan Pemasukan air yang berlebihan.Mekanisme Antisipasi Kelebihan atau Kekurangan Ion yaitu dengan transfor aktif dan difusi.
4. Osmoregulasi pada Hewan di Lingkungan Payau
Hewan Akuatik tidak selamanya menetap di habitat yang tetap (air laut atau air tawar) saat tertentu masuk ke daerah payau.contohnya belut , lampeer, dan ikan salmon.hewan hewan ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap perubahan kadar garam (kadar garam di daerah payau selalu berubah), selain itu larva nyamuk Aedes campestris Tumbuh baik di air tawar maupun di air bergaram yang lebih pekat dari cairan hemolimfenya Hidup di danau yang mengandung garam alkalis, dengan kandungan utama natrium karbonat dengan pH lebih dari 10Toleran terhadap kadar garam tiga kali lebih tinggi dari kadar garam air laut.
5. Osmoregulasi pada hewan di lingkungan darat
1) Keuntungan :
Hewan yang berhasil hidup di darat
Mudah memperoleh oksigen
2) Kerugian :
Masalah keseimbangan air dan ion
Mudah terancam dehidrasi
Kehilangan air dari tubuh pada hewan darat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
1. Kandungan uap air di atmosfer
2. Tekanan barometrik
3. Gerakan udara
4. Luas permukaan penguapan
5.Suhu
6. Osmoregulasi padainvertebrata darat
padainvertebrata darat umumnya merupakan golongan Artropoda, Insekta, dan laba-laba, sedangkan yang paling banyak ialah Insekta.pada insect alat pengatur pelepasan airya adalah lapisan kutikula spirakel, namun masih saja kehilangan air , sehingga untuk membatasi pelepasan air dilakukan dengan Respirasi diskontinyu. dengan cara pengambilan oksigen (O2) dilakukan dengan laju yang kontinyu dan pelepasan karbondioksida (CO 2)dilakukan secara periodik.

Rabu, 13 April 2011

AlL AbOuT TeLuR


Telur merupakan hasil ternak yang mempunyai andil besar dalam mengatasi masalah gizi yang terjadi di masyarakat. Telur kaya akan zat gizi yang diperlukan untuk kehidupan yang sehat. Zat gizi yang ada pada telur sangat mudah untuk dicerna dan dimanfaatkan tubuh. Telur cocok untuk dikonsumsi semua kelompok umur dari segala lapisan masyarakat (Astawan, 2008).
Kualitas telur bebek konsumsi yang baik dapat dilihat dari ciri fisik yaitu bentuk telur oval dengan salah satu ujung tumpul dan ujujng lainnya runcing, warna telur hijau, berat telur berkisar antara 60-70 gram dan keadaan telur masih utuh dan halus (Soeharno,2003).
Telur merupakan bahan pangan yang sempurna karena mengandung protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang cukup (Zulaekah, 2002). Menurut Astawan (2008), telur (terutama bagian kuningnya) mengandung semua macam vitamin (kecuali vitamin C) dan juga sumber mineral yang baik.
1)      Struktur Telur
Menurut Nurzane (2010), struktur telur terdiri dari kulit telur (cangkang), kalaza, putih telur, kuning telur, dan ruang udara, dan keeping lembaga.
a)      Kulit telur (cangkang) mempunyai banyak pori yang penting untuk pertukaran udara. Di dalam cangkang terdapat selaput tipis, di salah satu ujung telur, selaput tidak menempel pada cangkang sehingga membentuk rongga udara.
b)      Kalaza (tali kuning telur) berfungsi untuk menahan kuning telur, supaya tetap pada tempatnya dan menjaga embrio agar tetap berada di bagian atas kuning telur.
c)      Albumen (putih telur) berfungsi untuk melindungi zigot atau embrio dari goncangan, bahaya lain, dan sebagai cadangan makanan.
d)     Kuning telur sebagai persediaan makanan bagi embrio.
e)      Rongga udara sebagai sumber oksigen bagi embrio.
f)       Keping lembaga  disebut juga sel embrio, yang akan tumbuh menjadi individu baru.
2)      Kualitas Telur
Menurut Suprapti (2002), kualitas telur ditentukan oleh beberapa hal antara lain :
a)      Faktor keturunan
Unggas yang dihasilkan dari keturunan yang baik, umumnya akan menghasilkan telur yang berkualitas baik juga.
b)      Kualitas makanan
Makanan yang berkualitas (komposisi bahan tepat, baik dalam jumlah maupun kandungan nutrisinya) akan mempengaruhi laju pertumbuhan dan kesehatan unggas, sehingga telur yang dihasilkan juga baik.
c)      Sistem pemeliharaan
Sistem pemeliharaan anyara lain berkaitan dengan kebersihan atau sanitasi kandang dan lingkungan di sekitar kadang serta makanan yang diberikan.
d)     Iklim
Iklim di sekitar lokasi kandang akan sangat mempengaruhi kehidupan unggas yang dipelihara. Inlim yang cocok akan sangat mempengaruhi kualitas telur.
e)      Umur telur
Secara umum telur mempunyai masa simpan segar 2-3 minggu. Telur yang disimpan melebihi jangka waktu penyimpanan segar tersebut tanpa mendapatkan penanganan pengawetan, akan mengalami penurunan kualitas menuju ke arah pembusukan,
3)      Kandungan Telur
Tabel Komposisi Gizi Berbagai Jenis Telur per 100 Gram
Zat Gizi
Telur Ayam
Telur Bebek
Telur Puyuh
Energi (kkl)
143
185
158
Protein (g)
12,8
12,81
13,05
Lemak (g)
11,5
13,77
11,09
Karbohidrat (g)
0,7
1,45
0,41
Kalsium (mg)
54
64
64
Magnesium (mg)
12
17
13
Fosfor (mg)
180
220
226
Kalium (mg)
134
222
132
Natrium (mg)
140
146
141
Vit A (SI)
478
674
543
Vit B12 (mg)
1,29
5,40
1,58
Vit E (mg)
0,97
1,34
1,08
Vit K (mkg)
0,3
0,4
0,3
Kolesterol (mg)
423
884
844
(Astawan, 2008).
4)      Manfaat Telur
Menurut Nurzane (2010), telur dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, antara lain:
a)      Sebagai sumber protein yang mudah dicerna dan rasanya enak.
b)      Banyak terdapat zat-zat makanan, terutama di dalam kuningnya.
c)      Dapat dibuat macam-macam makanan atau dapat juga digunakan sebagai penyedap makanan.
d)     Dapat dibuat untuk mengentalkan makanan, penghias hidangan, dan pemberi warna.
e)      Dapat membuat tubuh kita menjadi lebih segar dan kuat.

Senin, 10 Januari 2011

Sistematika Hewan Vertebrata


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Alam semesta terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik (makhluk hidup) jumlahnya sangat banyak dan sangat beraneka ragam. Mulai dari laut, dataran rendah, sampai di pegunungan, terdapat makhluk hidup yang jumlahnya banyak dan sangat beraneka ragam. Karena jumlahnya banyak dan beraneka ragam, maka kita akan mengalami kesulitan dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup. Untuk mempermudah dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup maka diperlukan cara. Cara untuk mempermudah kita dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup disebut Sistem Klasifikasi (penggolongan / pengelompokan).
Klasifikasi hewan adalah pengelompokan berdasarkan kesamaan bentuk dan fungsi pada tubuh hewan. Tujuan klasifikasi itu sendiri adalah untuk memudahkan mengenali jenis-jenis hewan serta memudahkan komunikasi di dalam biologi. Klasifikasi hewan bersifat dinamis. Hal itu disebabkan beberapa kemungkinan seperti adanya perkembangan pengetahuan tentang hewan, penggunaan karakter yang berbeda dalam klasifikasi. Klasifikasi hewan didasarkan atas persamaan dan perbedaan karakter tertentu pada hewan yang bersangkutan.
Praktikum SHV merupakan salah satu mata mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa Biologi semester 5 dengan bobot 1 sks. PKL ini harus diadakan supaya mahasiswa terjun langsung mengamati spesies yang akan diamati untuk diidentifikasi dari golongan aves dan mamalia, sehingga mahasiswa lebih paham dan mengerti.  Praktikum di lapangan di lakukan dua kali yaiti PKL mandiri yang dilaksanakan oleh mahasiswa dengan menentukan sendiri lokasi praktek dan PKL bersama yang dilaksanakan di Gembira Loka di Yogyakarta.
Gembiroloka adalah suatu tempat rekreasi atau wisata yang terletak di Yogyakarta dan merupakan tempat hunian atau habitat buatan para binatang langka dan dilindungi, dihuni ± 311 jenis binatang, 200 koleksi tanaman. Serta memiliki 20 unit  aquarium air tawar dan laut. Karena banyaknya jenis binatang, maka digembiroloka sering dijadikan wahana pendidikan bagi para siswa maupun umum.

B.     TUJUAN
1.      Mempelajari bagian – bagian luar tubuh anggota Aves yang penting untuk diidentifikasi.
2.      Mempelajari  bagian – bagian tubuh dan ciri – ciri mamalia yang penting untuk diidentifikasi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dedy (2008), menyatakan bahwa binatang menyusui atau mamalia adalah kelas hewan vertebrata yang terutama dicirikan oleh adanya kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan anaknya; adanya rambut; dan tubuh yang endoterm atau "berdarah panas". Otak mengatur sistem peredaran darah, termasuk jantung yang beruang empat. Mamalia terdiri lebih dari 5.000 genus, yang tersebar dalam 425 keluarga dan hingga 46 ordo, meskipun hal ini tergantung klasifikasi ilmiah yang dipakai. Secara filogenetik, yang disebut Mamalia adalah semua turunan dari nenek moyang monotremata (seperti echidna) dan mamalia therian (berplasenta dan berkantung atau marsupial).
Ais (2009), menyatakan bahwa mamalia adalah kelompok satwa yang menempati semua posisi pada matarantai makanan, khususnya sebagai konsumen pada tingkat pertama sampai dengan tingkat terakhir, di luar proses detritasi. Selain itu, mamalia memiliki peran yang cukup besar dalam sistem keseimbangan lingkungan, sebagai mangsa dan sebagai pemangsa, terutama dari ordo Carnivora, yang memiliki peran predasi. Beberapa jenis kucing liar di Indonesia, memiliki kemampuan untuk menekan perkembangan jumlah species mamalia tertentu, seperti jenis-jenis pengerat. Beberapa jenis mamalia saat ini sesungguhnya telah tersentuh oleh domestikasi, seperti sapi, kerbau, kambing, kucing, kuda, dan beberapa lainnya. Sebaliknya, lebih banyak lagi jenis mamalia yang sama sekali masih sangat “liar”, dalam arti tidak bersentuhan dengan perilaku manusia secara alami. Karena itu, jenis-jenis mamalia yang liar ini, menjadi kurang terdata dan sedikit sekali pengetahuan kita mengenai kehidupannya.
Iqbal Ali (2008), menyatakan bahwa aves merupakan kelas tersendiri dalam kingdom animalia, aves atau burung memiliki ciri umum yaitu berbulu dan kebanyakan diantara mereka bisa terbang. Kelas aves adalah satu-satunya kelompok hewan yang memiliki bulu, (jangan salah mamalia berambut, bukan berbulu). Hal ini merupakan keunikan tersendiri dari kelompok hewan tersebut. Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya. Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi:
  • Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.
  • Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan perbedaan detail.
  • Plumae, Bulu yang sempurna.
  • Barbae
  • Barbulae, Ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan.
Andy (2007), menyatakan bahwa burung adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) yang memiliki bulu dan sayap. Meskipun burung berdarah panas, ia berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya terdekat, suku Crocodylidae alias keluarga buaya, burung membentuk kelompok hewan yang disebut Archosauria. Diperkirakan burung berkembang dari sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar depannya dan tumbuh bulu-bulu yang khusus di badannya. Pada awalnya, sayap primitif yang merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk sungguh-sungguh terbang, dan hanya membantunya untuk bisa melayang dari suatu ketinggian ke tempat yang lebih rendah. Burung masa kini telah berkembang sedemikian rupa sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada beberapa jenis yang primitif. Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk. Kesemuanya itu menjadikan burung menjadi lebih mudah dan lebih pandai terbang, dan mampu mengunjungi berbagai macam habitat di muka bumi. Ratusan jenis burung dapat ditemukan di hutan-hutan tropis, mereka menghuni hutan-hutan ini dari tepi pantai hingga ke puncak-puncak pegunungan. Burung juga ditemukan di rawa-rawa, padang rumput, pesisir pantai, tengah lautan, gua-gua batu, perkotaan, dan wilayah kutub. Masing-masing jenis beradaptasi dengan lingkungan hidup dan makanan utamanya. Maka dikenal berbagai jenis burung yang berbeda-beda warna dan bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain. Ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap nektar. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya.
Maskoeri Jasin (2004), menyatakan bahwa sistematik merupakan salah satu cabang biologi yang membahas tentang klasifikasi atau penggolongan makhluk hidup. Sistematik meliputi taksonomi atau klasifikasi, ekologi, penyebaran, dan evolusi hewan. Klasifikasi bertujuan untuk mempermudah mempelajari hewan, tetepi yang lebih penting adalah untuk menunjukkan kekerabatannya.  Klasifikasi system ilmiah dijelaskan dengan teori evolusi dan mencoba mencari kekerabatan darah (Filogenetik) dan hubungan menunjukkan dalam tahap – tahap pertumbuhan embrio (onthogenik). Rangka dasar dalam klasifikasi biologi adalah spesies. Spesies adalah kelompok individu yang mempunyai ciri – ciri umum yang berbeda dari yang lain. Individu dari spesies berasal dari nenek moyang yang sama mempunyai kekerabatan darah dan dapat dikawinkan satu dengan lainnya hingga menghasilkan keturunan yang mirip dengan kedua orang tuanya.
Campbell (2004), menyatakan bahwa hampir setiap bagian dari anatomi burung yang khas termodifikasi dalam beberapa hal untuk meningkatkan kemampuan terbang. Tulang-tulang burung memiliki struktur internal yang menyerupai sarang lebah, yang membuat mereka kuat namun ringan. Untuk classis Mammalia memiliki rambut, suatu karakteritik penentu seperti bulu terbang pada burung. Sebagian besar Mammalia memiliki metabolisme yang aktif dan merupakan hewan endoterm.
Faatih (2008), menyatakan bahwa binatang menyusui atau mamalia adalah kelas hewan vertebrata yang terutama dicirikan oleh adanya kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan anaknya, adanya rambut, dan tubuh yang endoterm atau “berdarah panas”. Otak mengatur system peredaran darah, termasuk jantung yang beruang empat. Mamalia terdiri lebih dari 5.000 genus, yang tersebar dalam 425 keluarga dan hingga 46 ordo, meskipun hal ini tergantung klasifikasi ilmiah yang dipakai. Secara filogenetik, yang disebut Mamalia adalah semua turunan dari nenek moyang monotremata (seperti echidna) dan mamalia therian (berplasenta dan berkantung atau marsupial).