Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

Laporan Budidaya Jamur Tiram


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jamur merupakan organisme yang tidak berklorofil sehingga jamur tidak dapat menyediakan makanan sendiri dengan cara fotosintesis seperti pada tanaman yang berklorofil. Jamur digolongkan ke dalam organisme heterotrof, yaitu organisme yang tidak mampu menghasilkan zat-zat hidupnya sendiri sehingga harus mengambilnya dari organism lain, seperti kayu yang membusuk atau batang pohon. Menurut subkelasnya, jamur dibedakan menjadi dua, yakni Ascomycetes dan Basidiomicetes. Jamur dari subkelas Basidiomycetes lebih mudah diamati karena ukuran tubuh buahnya yang cukup besar, tidak seperti dari subkelas Ascomycetes yang berukuran sangat kecil (mikroskopis).
Berdasarkan media tumbuhnya, jamur konsumsi dibedakan menjadi dua yaitu, jamur kayu dan jamur merang. Sebutan jamur kayu diberikan berdasarkan pada media tumbuhnya. Disebut jamur kayu karena media tumbuhnya berupa bahan-bahan yang berkaitan dengan kayu, seperti kayu gelondongan, serpihan kayu, atau dari serbuk gergaji. Di alam, jamur-jamur ini banyak dijumpai menempel pada pokok-pokok kayu yang telah lapuk atau pada pangkal-pangkal pohon. Sebenarnya istilah “jamur kayu” untuk sekarang ini kurang tepat, karena limbah-limbah yang mengandung selulosa (mengandung karbohidrat) dan lignin, seperti jerami, kapas, dedak, daun pisang, dan tongkol jagung pun sudah dapat digunakan sebagai media tumbuh jamur kayu. Karena itu, praktisnya, sekarang disebut nama jamurnya saja, misal jamur shiitake, jamur kuping, dan jamur tiram.
Ciri-ciri fisik jamur tiram yaitu bentuk tudungnya menyerupai cangkang kerang dengan diameter antara 5-15 cm. Permukaannya licin dan menjadi agak berminyak ketika berada dalam kondisi lembab. Bagian tepinya agak bergelombang. Letak tangkainya lateral atau tidak ditengah, tepatnya agak disamping tudung. Daging buahnya berwarna putih dan cukup tebal. Jika sudah terlalu tua menjadi alot dank eras. Warna tubuhnya berbeda-beda, sangat tergantung pada jenisnya. Misalnya Pleurotus ostreatus berwarna putih kekuningan, Pleurotus plorida berwarna putih bersih, bahkan ada yang berwarna merah muda, misalnya Pleurotus plabelatus. Namun jamur tiram yang banyak dijual di pasar dan telah dibudidayakan di Indonesia adalah Pleurotus ostreatus yang berwarna putih kekuningan. Di habitat aslinya, jamur tiram berasal dari kayu-kayu lunak, kayu pohon karet, kayu pohon kapuk, dan kayu pohon kidamar.
Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang baik. Pasar jamur tiram yang telah jelas serta permintaan pasar yang selalu tinggi memudahkan para pembudidaya memasarkan hasil produksi jamur tiram. Jamur tiram merupakan salah satu produk komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan tergolong bahan yang murah dan mudah diperoleh seperti serbuk gergaji, dedak dan kapur, sementara proses budidaya sendiri tidak membutuhkan berbagai pestisida atau bahan kimia lainnya. Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar pertanian jamur tiram. Media pembelajaran yang bertanggung jawab bagi penulis dalam memasuki dunia bisnis.

B.     Tujuan Praktikum
Mahasiswa mengetahui dan memahami cara budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus).

C.    Manfaat Praktikum
1.      Bagi Diri Sendiri
a.       Mahasiswa dapat mengetahui cara budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus).
b.      Mahasiswa dapat mengetahui hambatan-hambatan dalam budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus).
c.       Mahasiswa dapat terampil dalam melakukan budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus).
2.      Bagi masyarakat
a.       Memberikan informasi mengenai cara budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus).
b.      Sebagai sumbangan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
c.       Sebagai referensi bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Jamur termasuk dalam jenis sayuran yang mengandung sedikit sekali protein dan hidrat arang, seperti halnya kangkung, ketimun, kool, kembang kool, tauge, sawi. “Karena kandungan kalorinya rendah, jamur boleh dimakan sekehendak atau bebas tanpa memperhitungkan banyaknya.
Caray (2008) mengungkapkan bahwa budidaya jamur merupakan salah satu budidaya yang tidak mengenal musim dan tidak membutuhkan tempat yang luas. Jenis-jenis jamur yang umum dibudidayakan ialah jamur merang (Volvariella volvaceae), jamur tiram (Pleurotus ostreatus), jamur kuping (Auricularia polytricha), jamur payung (Lentinus edodes), dan jamur kancing (Agaricus Sp). Hasil panen jamur tersebut tak hanya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri bahkan ada juga yang di ekspor, seperti jamur kancing dan jamur payung. Media untuk pertumbuhan jamur dapat menggunakan limbah yaitu limbah pertanian (merang dan daun pisang) dan limbah industri (serbuk gergaji). Ramuan atau campuran yang digunakan sebagai media juga bermacam-macam, sedangkan metode yang digunakan untuk budidaya jamur ini juga bermacam-macam, seperti cara ilmiah, konvensional, tradisional, dan semi modern.
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur kayu yang sangat baik untuk dikonsumsi manusia. Selain karena memiliki cita rasa yang khas, jamur tiram juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Jamur tiram mengandung protein sebanyak 19 – 35 % dari berat kering jamur, dan karbohidrat sebanyak 46,6 – 81,8 %. Selain itu jamur tiram mengandung  tiamin atau vit. B1, riboflavin atau vit. B2, niasin, biotin serta beberapa garam mineral dari unsur-unsur Ca, P, Fe, Na, dan K dalam komposisi yang seimbang. Bila dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram, maka kandungan gizi jamur masih lebih lengkap sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan (Anonim, 2009).
Selain kelembaban, suhu, sirkulasi udara dan cahaya  juga mempengaruhi pertumbuhan jamur. Suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 - 28 OC dengan kelembabon 60 - 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 - 22 OC. Sirkulasi udara akan mendukung terciptanya suhu dan kelembaban yang optimal dalam pertumbuhan jamur. Jika tidak maka pembentukan tubuh buah jamur akan terhambat ataupun tidak maksimal. Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam keadaan gelap/tanpa sinar, Sebaiknya selama masa pertumbuhan misellium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar (Sukimin, 2008).
Tahapan budidaya jamur tiram sangat praktis dan sederhana, syaratnya antara lain, 1. Pencampuran median serbuk kayu, dedak atau bekatul, dan kapur dibasahi dengan air sehinga kadar kelembabannya 45 – 60%, 2. Media dimasukkan kedalam polybag atau kantong plastik lalu dipadatkan, 3. Dikukus minimal 3 jam lalu didinginkan, 4. Inokulasi dengan bibit jamur, 5. Digelapkan selama satu bulan dengan cara disimpan diruang gelap atau ditutup dengan terpal, 6. Setelah seluruh media berwarna putih, penutup dibuka atau polybag disayat, diberi pencahayaan sedikit dan penyinaran di lantai ruangan, 7. Jamur tiram siap dipanen dalam umur 3 – 4 hari (Alamsyah, 2009).
Jamur tiram memiliki berbagai manfaat yaitu sebagai makanan, menurunkan kolesterol, sebagai anti bacterial dan anti tumor, serta dapat menghasilkan enzim hidrolisis dan enzim oksidase. Selain itu, jamur tiran juga dapat berguna untuk membunuh nematoda. Jamur tiram ini memiliki manfaat kesehatan, diantaranya untuk mengurangi kolesterol dan jantung lemah. Dapat juga dijadikan obat penyakit liver, diabetes dan anemia. Jamur tiram juga dipercaya mampu menurunkan berat badan karena berserat tinggi dan membantu pencernaan (Anonim, 2010).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Tempat dan Waktu
1.      Tempat : Laboratorium Biologi (Laboratorium Jamur), Universitas Muhammadiyah Surakarta.
2.      Waktu : 4-5 Bulan

B.     Alat dan Bahan
ALAT:
1.      Sterilisasi : drum, kompor minyak, thermometer, selang karborator.
2.      Fermentasi : skop, plastic terpal, corong, ember, timbangan, pengayak.
3.      Pembuatan Log : plastik log (polipropilen), cincin jamur, karet gelang, kertas penutup.
4.      Inokulasi : tongkat inokulasi, ember/baskom, alkohol 70%.
5.      Perawatan Jamur : penyemprot air uap.
BAHAN:
1.      Bibit jamur tiram putih Pleurotus ostreatus
2.      Serbuk gergaji keyu sengon
3.      Bekatul
4.      Calcit
5.      Pupuk kandang sapi
6.      Air
7.      Alat steam
8.      Minyak tanah

C.    Pelaksanaan Praktikum
1.      Pencampuran bahan
a.       Meletakkan bahan pada tempat yang datar dan kering.
b.      Mencampur komposisi dengan perbandingan :
·         Serbuk gergaji             : 100 kg
·         Bekatul                        : 10 kg
·         Batu kapur (CaCo3)    : 4 kg
·         Air                               : 7 ember (70 liter)
c.       Meratakan komposisi bahan tersebut sampai homogen dan tidak menggumpal.
d.      Mengecek kelembaban, apabila sudah lembab dihentikan.
e.       Menutup bahan dengan platik penutup dan memfermentasikannya selama 3-5 hari.
2.      Pembuatan log
a.       Menyiapkan alat dan bahan.
b.      Memasukkan komposisi bahan ke dalam plastik log.
c.       Menimbang bahan seberat 0,9-1 kg.
d.      Menambahkan pupuk kandang sapi sesuai perlakuan.
e.       Memasukkan cincin jamur pada ujung plastik.
f.       Mengikat ujung plastic pada cincin jamur dengan karet gelang.
g.      Menyumbat cincin jamur dengan kertas.
h.      Menutup cincin jamur yang sudah disumbat dengan kertas kemudian mengikatnya dengan karet.
3.      Sterilisasi log
a.       Memasukkan log pada alat steam.
b.      Menyalakan kompor dengan munyak tanah dan korek api.
c.       Mensterilisasi log pada suhu 1140C konstan selama 4-5 jam.
d.      Mendinginkan log pada tempat steril.
4.      Inokulasi bibit jamur ke dalam log dan pengamatan miselium
a.       Mensterilkan telapak tangan dengan menggunakan alcohol 70%.
b.      Membuka plastic yang menutup jamur pada log.
c.       Membuka sumbatan kertas pada cincin jamur.
d.      Mengeluarkan 3 sendok makan media dalam log dengan tongkat inokulasi selanjutnya menampung sisa media tersebut dalam ember atau baskom.
e.       Menginokulasikan bibit jamur kurang lebih 3 sendok makan ke dalam log menggunakan tongkat inokulasi.
f.       Menutup kembali cincin dengan kertas.
g.      Menginokulasikan log ke dalam ruang pembibitan.
h.      Mengamati pertumbuhan miselium jamur dalam log.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Budidaya jamur. http://usahajamur.co.cc/tag/sterilisasi-baglog/. Diakses pada tanggal 11 januari 2011.
Anonim.  2010. Jamur Tiram. http://id.wikipedia. Urg/wiki/Jamur_tiram, diakses pada tanggal 11 januari 2011.
Anonim, 2009. Pengembangan Usaha Budidaya Jamur Tiram (Pleorotus ostreatus).http://D:/budidaya%20jamur/budidaya%20jamur/PROPOSAL%20PENGEMBANGAN%20USAHA%20BUDIDAYA%20JAMUR%20TIRAM%20%28Pleurotus%20ostreatus%29%20part%201%20%C2%AB%20Organic%20Entrepreneur..Harmony%20of%20Humans%20and%20Nature.htm. diakses pada tanggal 25 Desember 2010.
Alamsyah. 2009. Tahapan Budidaya Jamur Tiram. http://my.Opera.com/Alamsyah1/blog/show.dml/4239905. diakses pada tanggal 11 Januari 2011.
Sukimin. 2008. Syarat Tumbuh Jamur Tiram. http://budidayajamurtiram.blogspot.com/2008/07/syarat-tumbuh-jamur-tiram.html. diakses pada tanggal 11 Januari 2011.


Senin, 17 Januari 2011

Biologi Kehidupan Ikan Tuna


A.    Klasifikasi Ikan Tuna
Phylum                  : Chordata
Sub phylum           : Vertebrata
Classis                   : Teleostei
Sub Classis            : Actinopterygii
Ordo                      : Perciformes
Sub Ordo              : Scombroidae
Genus                    : Thunnus
Species                  : Thunnus alalunga (Pacific Albacore)
                                Thunnus albacores (Yellowfin Tuna)
                                Thunnus macoyii (Southern Bluefin Tuna)
                                Thunnus obesus (Big Eye Tuna)
                                Thunnus tongkol (Longtail Tuna)

B.     Ciri – Ciri Umum Ikan Tuna
Ikan tuna merupakan keluarga Scombroidae, tubuhnya seperti cerutu, memiliki dua sirip punggung, sirip depan yang biasanya terpisah dari sirip belakang. Mempunyai jari – jari sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Sirip dada terletak agak ke atas, sirip perut kecil, sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari – jari penyokong menutup seluruh ujung hipural. Tubuh ikan tuna tertutup oleh sisik – sisik kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya, sebagian memiliki sirip tambahan yang berwarna kuning cerah dengan pinggiran berwarna gelap.
Ikan tuna merupakan jenis ikan perenang cepat dan selalu bergerombol bersama ikan sejenisnya. Jenis ikan ini senang melakukan perjalanan jauh secara bersama – sama, misalnya ribuan ikan tuna sirip biru selatan (southern blue fin tuna) bisa berpindah dari Samudera Hindia ke sebelah barat Benua Australia hingga Samudera Selatan dekat Kutub. Jarak ribuan kilometer itu ditempuh dengan kecepatan tinggi sehingga jenis ikan pelagis ini tergolong sulit ditangkap.

C.    Macam – Macam Ikan Tuna
1.      Thunnus alalunga (Pacific Albacore)
            Ikan albacore tuna di laut utara pasifik, ikan ini suka hidup pada kisaran suhu 18.5 – 21.5 oC, dan tingkat klorofil-a 0.3 mg/m3. Memiliki beberapa nama seperti Pasifik albacore, tombo dan “tuna putih”, tersebar luas pada perairan hangat dunia di utara Pasifik dan Kepulauan Hawaii. Mereka mempunyai daging yang agak kemerahan, namun sebagian besar dagingnya berwarna agak putih seperti susu semisal ayam saat dimasak. Umumnya ikan ini dimanfaatkan untuk ikan kaleng tuna putih. Akhir-akhir ini ukuran tuna yang tertangkap lebih kecil, dan ditangkap pada pasang tinggi, pada suhu perairan dingin. Daging tuna ini dijual di restoran-restoran sushi Jepang dan dikenal dengan nama bintoro.
2.      Thunnus albacores (Yellowfin Tuna)
            Ciri - ciri fisik, tubuh yang berukuran besar, berbentuk fusiform (torpedo), sedikit kompres dari sisi ke sisi. Jari-jari insang 26-34 pada lengkuangan pertama. Memiliki dua sirip dorsal/punggung, sirip depan biasanya pendek dan terpisah oleh celah yang kecil dari sirip belakang. Mempunyai jari-jari sirip tambahan (finlet) 8-10 finlet dibelakang sirip punggung dan sirip anal 7-10 finlets. Memiliki sisip pelvik yang kecil. Pada spesimen yang berukuran besar memiliki sirip dorsal kedua dan sirip anal yang sangat panjang, mencapai lebih dari 20% panjang cagak; sirip pektoralnya cukup panjang, biasanya lebih dari panjang sirip dorsal kedua biasanya 22-31% dari panjang fork. Sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari-jari penyokong menutup seluruh ujung hipural. Sirip ekornya berbentuk sangat ramping dan terdiri dari 3 keel. Tubuhnya tertutup oleh sisik yang sangat kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya. Sisik berukuran besar kadang berkembang namun jarang nampak. Tanda sisik yang berukuran besar membentuk semacam lingkaran disekeliling tubuh pada bagian belakang kepala, dan kemudian berkurang di bagian belakang sirip dorsal kedua. Ikan ekor kuning berwarna biru tua gelap pada sisi belakang dan diatas tubuhnya dengan perut kuning atau silver. Sirip dorsal, sirip anal dan jari-jari sirip tambahan berwarna kuning menyala. Memiliki permukaan ventral hati yang cukup halus. Ikan ekor kuning matanya kecil dan memiliki gigi berbentuk kerucut. Kantung renang terdapat pada jenis tuna ini.          
            Ikan ekor kuning adalah anggota dari albacore, bonito, makarel, dan tuna. Jenis-jenis ikan tuna agak susah untuk dibedakan spesiesnya. Blackeye, blackfin, albacore, dan ekor kuning memiliki bentuk yang mirip dan sering ditangkap bersama-sama. Karakteristik yang membedakan ikan ekor kuning dari spesies yang lain adalah sirip anal dan dorsal yang memanjang pada ukuran ikan yang besar. Ikan ekor kuning merupakan ikan kedua terbesar dari spesies tuna yang ada. Ikan ekor kuning dapat mencapai total panjang 2,80 meter dan berat maksimum 400 kg sehingga sangat populer. Umumnya memiliki panjang cagak 150 cm. Rata-rata umur ikan adalah 8 tahun. Tuna termasuk perenang cepat dengan kecepatan mencapai 80 km/jam dan terkuat di antara ikan-ikan yang berangka tulang. Mereka mampu membengkokan siripnya lalu meluruskan tubuhnya untuk berenang cepat. Ikan ini memakan ikan kecil, krustacea, pelagik dan epipelagik moluska. Ikan ekor kuning adalah makanan laut di seluruh dunia dan ancaman overfishing. Ikan ini enak untuk dimakan. Ikan ekor kuning merupakan ikan komersial terpenting kedua dari beberapa jenis tuna. Kapasitas maksimum isi perut pada ikan ekor kuning dapat mencapai 7% dari berat tubuhnya. Ikan tuna setiap harinya dapat mencerna makanannya 15% dari berat tubuhnya. Ikan tuna yang mendiami daerah pantai biasanya memakan gerombolan ikan hidup (anchovies, sardines). Ikan ekor kuning yang dewasa dapat bersifat kanibal.
3.      Thunnus macoyii (Southern Bluefin Tuna)
            Ikan ini menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya untuk bermigrasi antara dalamnya lautan Pasifik dan wilayah perairan air hangat laut mediteranian dimana ia meletakkan telurnya: itulah red tuna Mediteranian (Thunnus thynnus). Penghuni lautan ini merupakan famili dari Scombridae, sama seperti longfin tuna (Thunnus alalunga) dan yellowfin tuna (Thunnus albacares). Nama red tuna berasal dari karakteristik warna daging, sementara sirip belakangnya nampak berwarna biru, oleh karenanya disebut bluefin tuna. Bluefin tuna adalah salah satu bonefish terbesar yang ada; kenyataan, ukurannya bisa mencapai panjang tiga meter, dan beratnya mencapai hampir 700 kg. Bentuknya yang kerucut dan ramping, dengan struktur otot yang kuat, layak jika ikan ini memiliki kemampuan luar biasa dalam bermigrasi antar samudera , bahkan hingga beberapa mil. Tuna ini mampu menjaga temperatur tubuhnya lebih tinggi daripada air. Dilaporkan memiliki fenomena endotermis sama seperti mamalia dan dengan alasan tersebut tuna ini digambarkan mirip mamalia. Meskipun demikian temperatur tubuh ikan ini tidak konstan, sama seperti pada mamalia, yaitu bervariasi antara 4 derajat C sampai maksimum 20 derajat C.
            Di Jepang dikenal sebagai “Indian tuna”, ikan ini mirip dengan bluefin tuna hanya sedikit lebih kecil. Yang paling besar dapat mencapai panjan 2 meter dan berat kurang dari 200 kg. Wilayah sebarannya meliputi belahan dunia selatan yang bisa ditangkap di wilayah perairan sekitar Australia, Selandia Baru dan Afrika Selatan. Australia mengekspor sekitar 8000 ton ke jepang. Telah dibudidayakan di daerah selatan Australia, tepatnya di Port Lincoln. Kualitas dagingnya mirip dengan bluefin tuna dan seperti halnya bluefin tuna, dagingnya dimanfaatkan sebagai sushi dan sashimi bernilai tinggi.
4.      Thunnus obesus (Big Eye Tuna)
            Wilayah sebarannya cukup luas yang tersebar mulai dari daerah tropis hingga ke daerah beriklim empat kecuali laut mediteranian.  Disebut ikan tuna mata besar sebab memiliki ukuran  mata yang besar. Mereka bermigrasi musiman pada daerah selatan, samudera pasifik ,lautan hindia dan utara , Lautan Atlantik untuk mencari makanan dan memijah. Ia lebih kecil dari bluefin tuna.  Jumlah hasil tangkapan adalah yang terbanyak dibanding jenis ikan tuna lainnya.  Karena jumlahnya yang banyak, harga ikan ini lebih murah dibanding bluefin tuna. Ukuran panjang tuna mata besar berkisar antara 20 - 37 inchi dan dapat hidup panjang lebih dari 9 tahun.  Mereka dapat memijah sepanjang tahun dalam gerombolannya dengan menghasilkan telur pada induk betina berkisar antara 3 - 6 juta telur.  Ikan ini biasa makan pada malam hari dari jenis ikan (mackerel),  cumi-cumi, udang yang ada dipermukaan hingga kedalaman 500 kaki.
5.      Thunnus tongkol (Longtail Tuna)
            Ikan tongkol masih tergolong pada ikan Scombridae, bentuk tubuh seperti cerutu, dengan kulit yang licin .Sirip dada melengkung, ujngnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Dan dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet.
            Ikan tongkol yang tergolong famili scombroidae, jika dibiarkan pada suhu kamar, maka segera akan terjadi proses penurunan mutu, menjadi tidak segar lagi dan jika ikan tongkol ini dikonsumsi akan menimbulkan keracunan. Keracunan ini disebabkan oleh kontaminasi bakteri pathogen seperti Escherichia coli, Salmonella, Vibrio cholerae, Enterobacteriacea dan lain-lain. Salah satu jenis keracunan yang sering terjadi pada ikan tongkol adalah keracunan histamin (scombroid fish poisoning) karena ikan jenis ini mengandung asam amino histidin yang dikontaminasi oleh bakteri dengan mengeluarkan enzim histidin dekarboksilase sehingga menghasilkan histamin. Bakteri  ini banyak terdapat pada anggota tubuh manusia yang tidak higienis, kotoran/tinja, isi perut ikan serta peralatan yang tidak bersih.
6.      Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)
            Cakalang termasuk jenis ikan tuna dalam famili Scombridae, species Katsuwonus pelamis. Collete (1983) menjelaskan ciri-ciri morfologi cakalang yaitu tubuh berbentuk fusiform, memanjang dan agak bulat, tapis insang (gill rakes) berjumlah 53- 63 pada helai pertama. Ikan cakalang mempunyai dua sirip punggung yang terpisah. Pada sirip punggung yang pertama terdapat 14-16 jari-jari keras, jari-jari lemah pada sirip punggung kedua diikuti oleh 7-9 finlet. Sirip ini berfungsi untuk mengatur pergerakan ikan ke arah kiri dan kanan ketika bergerak maju. Pengaturan arah dari sirip ini lebih dominan dibandingkan dengan sirip anal.Terdapat dua sirip dada yang pendek. Sirip dada tidak memiliki fungsi yang cukup penting dalam pergerakan ikan. Sirip ini biasanya digunakan ikan ketika bergerak maju ke arah depan secara pelan atau lambat. Ikan cakalang mempunyai dua sirip perut, dan memiliki ukuran yang pendek. Sirip ini biasanya digunakan ikan cakalang ketika hendak berhenti sejenak. Sirip ini membantu ikan untuk bertahan pada posisinya sehingga tidak tenggelam. Sirip anal pada ikan cakalang diikuti dengan 7-8 finlet. Sirip anal terdapat dibagian bawah tubuh yang berdekatan dengan sirip kaudal. Ukuran sisip ini menyerupai sirip punggung kedua. Seperti layaknya sirip dorsal, sirip anal berfungsi untuk mengatur pergerakan ikan ke arah kiri dan kanan. Namun pengaruhnya terhadap pengaturan arah gerekan ikan lebih sedikit daripada sirip punggung. Sirip kaudal terletak di bagian paling belakang tubuh ikan cukup tebal dibandingkan dengan sirip lainnya. Bentuknya menyerupai bulan sabit. Fungsi dari sirip ini adalah membantu ikan bergerak cepat ketika mereka mengejar makanan. Ketika bergerak maju sirip ini diayunkan ikan ke sisi kiri dan kanan untuk mendorong air ke belakang. Sirip ini juga mengatur pergerakan ikan ketika mau memutar arah atau membelok tubuhnya. Sirip ini sangat penting dalam mengatur pergerakan dan kecepatan ikan bergerak
            Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) atau Skipjack tuna banyak ditemukan di perairan Laut Banda dan Laut Flores. Ciri-ciri ikan cakalan ini badan seperti terpedo gemuk dan padat. Terdapat Sirip tambahan sebanyak 8 buah dibelakang sirip punggung dan 7 buah dibelakang sirip dubur. Tidak terdapat sisik kecuali sekitar kepala dan sekitar dada. Warna punggung gelap biru keungu-unguan sedang bagian bawah keperakan. Panjang dapat mencapai 90 CM dan biasanya 40 – 60 cm.

D.    Pemanfaatan Ikan Tuna
Ikan tuna bagi Indonesia merupakan komoditas ekspor terbesar kedua setelah udang. Dari nilai ekspor sebesar 2 miliar dollar AS per tahun, 20 persen disumbang dari ikan tuna. Ekspor tuna total dari Indonesia mencapai 200.000 ton per tahun.
Ikan tuna banyak digemari dan dikonsumsi masyarakat karena memiliki banyak kelebihan dan keunggulan. Diantaranya adalah tekstur daging yang padat, halus dan rasanya enak, juga memiliki nilai gizi yang cukup tinggi.
Berikut nilai gizi ikan tuna per 100 gram porsi makanan:

Nutrisi
Air, 70.58 g
Energi, 103 kcal
Energi, 431 kj
Protein, 22 g
Total lemak, 1.01 g
Karbohirat, 0 g
Serat, 0 g
Ampas, 1.3 g
Mineral
Kalsium, Ca, 29 mg
Besi, Fe, 1.25 mg
Magnesium, Mg, 34 mg
Phospor, P, 222 mg
Potassium, K, 407 mg
Sodium, Na, 37 mg
Seng, Zn, 0.82 mg
Tembaga, Cu, 0.086 mg
Mangan, Mn, 0.015 mg
Selenium, Se, 36.5 mg
Vitamin
Vitamin C, asam ascorbic, 1 mg
Thiamin, 0.033 mg
Riboflavin, 0.1 mg
Niacin, 15.4 mg
Asam Pantothenic, 0.42 mg
Vitamin B-6, 0.85 mg
Folate, 9 mcg
Vitamin B-12, 1.9 mcg
Vitamin A, 52 IU
Vitamin A, RE, 16 mcg_RE
Lemak
Asam lemak jenuh, saturated, 0.328 g
14:0, 0.04 g
16:0, 0.233 g
18:0, 0.055 g
Asam lemak tak jenuh, monounsaturated, 0.19 g
16:1, 0.036 g
18:1, 0.131 g
20:1, 0.017 g
22:1, 0.006 g
Asam lemak tak jenuh, polyunsaturated, 0.315 g
18:2, 0.016 g
18:4, 0.004 g
20:4, 0.026 g
20:5, 0.071 g
22:5, 0.013 g
22:6, 0.185 g
Kolesterol, 47 mg
Asam Amino
Tryptophan, 0.246 g
Threonine, 0.964 g
Isoleucine, 1.014 g
Leucine, 1.788 g
Lysine, 2.02 g
Methionine, 0.651 g
Cystine, 0.236 g
Phenylalanine, 0.859 g
Tyrosine, 0.743 g
Valine, 1.133 g
Arginine, 1.316 g
Histidine, 0.648 g
Alanine, 1.331 g
Asam Aspartic, 2.253 g
Asam Glutamic, 3.284 g
Glycine, 1.056 g
Proline, 0.778 g
Serine, 0.898 g
E.     Budidaya Ikan Tuna
Tuna adalah jenis ikan yang senang melanglang buana. Secara bergerombol, ribuan ikan tuna sirip biru selatan (southern blue fin tuna), misalnya, bisa berpindah dari Samudera Hindia ke sebelah barat Benua Australia hingga Samudera Selatan dekat Kutub. Jarak ribuan kilometer itu ditempuh dengan kecepatan tinggi sehingga jenis ikan pelagis ini tergolong sulit ditangkap. Untuk menaklukkannya, mereka mengembangkan berbagai jenis alat tangkap dari yang sederhana hingga modern dengan daya tangkap yang intensif. Tak heran dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan telah terjadi penurunan jumlah tangkapan ikan penjelajah itu.
Menurut Sam Simorangkir, Ketua I Asosiasi Tuna Indonesia, menurunnya hasil tangkapan ikan tuna di dunia telah terlihat sejak tiga tahun terakhir, yaitu dari produksi 3,9 juta ton pada tahun 1999 menjadi 3,6 juta ton tahun 2002. Selain jumlah, ia pun menyebut adanya kecenderungan penurunan berat per ekor dalam seperempat abad terakhir ini, yaitu dari 37 kilogram (kg) rata-rata per ekor pada tahun 1973 menjadi 26 kg pada tahun 1999. Hal tersebut menunjukkan menurunnya populasi tuna karena penangkapan berlebih dan berkurangnya ketersediaan serta kualitas sumber pakannya. Populasi tuna di alam yang terus menurun itu belum juga mendorong upaya pengurangan kegiatan penangkapannya. Akibatnya, ikan tuna kini terancam populasinya di muka Bumi. Dalam pertemuan Convention on International Trade in Endangered Species on Wild Fauna And Flora (CITES) pada tahun 1992, telah dinyatakan bahwa ikan tuna sirip biru yang banyak ditangkap di Samudera Pasifik merupakan spesies yang nyaris punah. Melihat kecenderungan itu, Jepang sebagai konsumen terbesar dari semua jenis ikan tuna menjadi khawatir. Karena itu, bangsa penggemar ikan ini merintis upaya budidaya tuna sebagai upaya mengurangi eksploitasi ikan tuna di laut. Mereka mengembangkan teknik budidaya tuna jenis sirip biru utara (northern blue fin tuna). Dengan keberhasilan itu, Jepang menjadi negara pertama yang membudidayakan ikan pelagis ini dari mulai tahap pemijahan.
Saat ini, budidaya yang dilakukan masih terbatas pada upaya pembesaran, yaitu menangkap anak tuna kemudian dibesarkan di jaring terapung di laut, seperti yang dilakukan Australia. Anak ikan tuna sirip biru yang beratnya 1 kg hingga 5 kg akan dipelihara hingga 2 tahun untuk mencapai berat yang layak dipasarkan. Produksi ternak tuna dari negeri kanguru ini mencapai 7.500 ton tahun lalu. Selain Australia, beberapa negara Mediterania (seperti Spanyol, Italia, Maroko, Portugis, Malta, Kroasia, dan Turki), Meksiko, dan Jepang telah melakukan upaya pembesaran ikan tuna. Dari negara Mediterania dihasilkan 11.300 ton tuna sirip biru, sedangkan Jepang 3.000 ton tuna jenis yang sama. Namun, untuk membesarkan tuna, masing-masing negara menerapkan periode pembesaran dan ukuran tuna tangkapan yang berbeda. Jepang membesarkan tuna mulai dari ukuran 100 gram hingga 500 gram selama dua hingga tiga tahun, sedangkan kelompok negara Mediterania, tuna dipelihara selama 6 bulan saja, namun berat tuna yang ditangkap dari alam bobotnya 50-200 kg.
Jepang kini telah selangkah lebih maju dengan melakukan pemijahan. Tidak cukup memijah tuna sirip biru, peneliti tuna dari Negeri Matahari terbit ini menyeberang ke Benua Amerika, menjalin kerja sama dengan Panama yang menjadi eksportir tuna terbesar dari Amerika Latin. Program budidaya tuna jenis albacore di Panama sudah dilakukan delapan tahun lalu. Budidaya itu kini juga sudah sampai tahap pemijahan hingga pembesaran. Namun, pembenihan ikan tuna yang dilakukan sejak tahun 1997 hingga saat ini masih dalam skala laboratorium. Perhatian Jepang kini beralih ke Indonesia sebagai negara pemasok ikan tuna terbesar ke Jepang. Jepang memang merupakan importir tuna terbesar dari Indonesia. Pada kurun waktu dari Januari hingga Juni 2002 Jepang mengimpor 31.578 ton tuna dari seluruh dunia, sebanyak 9.455 ton di antaranya berasal dari Indonesia. Karena itu, Jepang menganggap kerja sama riset tuna dengan Indonesia merupakan hal penting, seperti yang dikemukakan Presiden Overseas Fishery Cooperation Foundation (OFCF) Junji Kawai saat meresmikan fasilitas riset pembenihan dan pembudidayaan ikan tuna di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Gondol, Kabupaten Buleleng, Bali, Selasa (22/4) lalu. Riset pembenihan dan pembudidayaan ikan tuna di Gondol, Bali, diharapkan dapat mengurangi penangkapan ikan tuna di perairan Indonesia. Diketahui, Indonesia termasuk negara dengan jenis tuna terbanyak. Ada enam jenis ikan tuna yang dijumpai di perairan Indonesia, yaitu tuna mata besar (big-eye), tuna sirip biru selatan, tuna sirip kuning (yellow fin tuna), albacore, dan tuna ekor panjang (longtail).
Riset tuna di Gondol, Bali, diawali dengan menangkap induk tuna di laut. Saat ini baru tertangkap 5 induk tuna yang telah dipelihara di bak atau kolam khusus. Kemudian akan dilakukan riset pembiakan dari telur menjadi gonad. Tahap berikutnya adalah riset pakannya agar berprotein namun tidak membuatnya gemuk sehingga sesuai dengan pakan alaminya. Pada tahap terakhir riset yang direncanakan selama tiga tahun ini adalah riset penyakit dan obatnya. Dalam pelaksanaan budidaya tuna, ada beberapa tingkat kesulitan, antara lain pada penangkapan induk tuna di alam. Karena kegesitan gerak ikan ini diperlukan kapal berkecepatan tinggi. Penangkapannya dengan pancing juga harus diatur agar tidak membuat bakal induk tuna itu mati karena luka atau kekurangan air selama dalam penyimpanan di kapal. Tuna yang biasa bergerak lincah ini bila dipelihara di kolam akan mengalami peningkatan pesat bobot tubuhnya. Tuna sirip kuning yang diteliti beratnya saat ditangkap 4 kg. Namun, setelah dipelihara selama dua tahun dalam jaring apung di laut bisa menjadi 80 kg. Namun, bila dipelihara di kolam, ikan ini akan kurang bergerak sehingga kandungan lemaknya akan naik cepat dari sekitar 0,1 hingga 0,5 persen berat tubuhnya menjadi 10 hingga 20 persen dalam waktu dua bulan.
Budidaya tuna sebenarnya telah mulai dirintis lima tahun lalu oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan mengembangkan sistem jaring apung di laut, seperti yang dilakukan Australia. Di negara benua ini, tuna berukuran kecil ditangkap dari alam dengan towing cage kemudian dipindahkan ke sangkar jaring di tepi pantai. Tuna dipelihara sampai mencapai ukuran ekonomis tertentu, baru dijual. Tujuan dari uji coba budidaya tuna yang dilakukan di Pulau Seram, Ambon, itu untuk meningkatkan perekonomian nelayan di Kawasan Timur Indonesia. Diketahui, Indonesia termasuk 10 besar negara pengekspor tuna, namun tuna Indonesia dihargai rendah karena kualitas hasil tangkapannya rendah. Sistem penampungan sementara di jaring terapung atau kolam khusus dekat pantai dapat mengatasi masalah itu. Pada program budidaya tuna BPPT beberapa tahun lalu, sempat dijalin kerja sama dengan Latoka Mina Raya untuk melakukan riset bersama dan mengkaji kelayakannya dari berbagai sudut, termasuk segi ekonomisnya. Dalam hal ini diusulkan kegiatan ini masuk dalam program Riset Unggulan Kemitraan. Program itu sayangnya berhenti sampai tahap awal karena kendala pendanaannya. Menurut dia, upaya penangkapan ikan tuna muda untuk budidaya bisa dilakukan dengan dua tujuan, untuk pembesaran semata lalu dipasarkan dan mencari induk untuk tujuan pemijahan. Namun, budidaya untuk tujuan pembesaran di jaring apung ini memerlukan biaya yang mahal. Apalagi pemeliharaannya di kolam memerlukan sistem sirkulasi dan pengaturan kondisi lingkungan kolam yang sesuai dengan habitat ikan tuna tersebut.